BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Model pembelajaran tematik adalah model pembelajaran
terpadu yang menggunakan pendekatan tematik yang melibatkan beberapa mata
pelajaran untuk memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Dikatakan bermakna
karena dalam pembelajaran tematik, siswa akan memahami konsep-konsep yang
mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep
lain yang telah dipahaminya. Fokus perhatian dalam pembelajaran tematik
terletak pada proses yang ditempuh siswa saat berusaha memahami isi
pembelajaran sejalan dengan bentuk-bentuk keterampilan yang harus
dikembangkannya.
Pembelajaran
mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai
konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta
didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu
objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan
sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta
didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu
pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya
interaksi antara pengajar dengan peserta didik.
Pembelajaran yang berkualitas sangat
tergantung dari motivasi pelajar, kreatifitas pengajar dan metode pembelajaran
yang digunakan sesuai berdasarkan konteksnya. Pembelajar yang memiliki motivasi
tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut,
juga dengan metode yang relevan akan membawa pada keberhasilan pencapaian
target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan
kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik,
ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreatifitas guru akan
membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.
Mengingat pentingnya relevansisuatu metode dalam
kegiatan belajar mengajar, dan demi menjaga keberlangsungan interaksi antara
pengajar dan peserta didik, dalam makalah ini penulis mencoba untuk menguraikan
metode tematik dalam mengajar agar bisa diaplikasikan dalam praktisnya sesuai
dengan konteks, sehingga setidaknya kita bisa mengetahui metode tematik dalam
pembelajaran, dan kita bisa menentukan mana tema belajar yang signifikan untuk
suatu metode tematik yang berorientasi pada karakteristik peserta didik itu
sendiri, agar proses belajar mengajar dapat berlangsung secara interaktif dan
optimal.
B.
Rumusan Masalah
Dalam ranah pendidikan, aspek pembelajaran merupakan
aspek yang bisa dikatakan penting, mengingat pembelajaran disini adalah suatu
proses belajar yang lebih menekankan pada aktivitas interaksi antara pengajar
dan peserta didik. Tentu perlu adanya komunikasi atau interaksi antara pengajar
dan peserta didik dalam aktivitas belajar, karena proses komunikasi atau
interaksi tersebut sebebagai pemicu terciptanya proses belajar yang efektif dan
kondusif. Nah untuk mencapai tujuan tersebut, tentu perlunya suatu metode
(cara) untuk merealisasikan hal tersebut.
Salah satu
aspek yang mempengaruhi keberhasilan pembelajaran adalah kemampuan guru dalam
mengelola pembelajaran dan penentuan metode yang digunakan, dalam prosesnya
pengelolaan tersebut harus diarahkan hingga menjadi suatu proses bermakna dan
kondusif dalam pembentukan kemampuan siswa. Oleh karena itu, kegiatan belajar
selain dikembangkan secara sistematis, efektif dan efisien juga perlu variasi
kegiatan sebagai alternatif untuk menumbuh kembangkan motivasi dan aktivitas
siswa dalam belajar.
Dalam hal
ini, seorang guru dituntut harus bisa menciptakan suasana belajar yang efektif,
efisien, interaktif, sistematis dan kondusif. Dengan berbekal ilmu pengetahuan
dan kreatifitas yang berorientasi pada metode yang digunakan, seorang guru
harus bisa menciptakan suasana belajar seperti itu.
C.
Tujuan
Tujuan belajar adalah
sejumlah hasil belajar yang menunjukkan bahwa siswa telah melakukan tugas
belajar, yang umumnya meliputi pengetahuan,keterampilan dan sikap-sikap yang
baru, yang diharapkan tercapai oleh siswa. Tujuan belajar adalah suatu
deskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah
berlangsungnya proses belajar.
Tujuan belajar
menurut Sukandi (1983: 18) adalah mengadakan perubahan tingkah laku dan
perbuatan. Perubahan itu dapat dinyatakan sebagai suatu kecakapan keterampilan,
kebiasaan, sikap, pengertian, sebagai pengetahuan atau penerimaan dan
penghargaan. Sedangkan Surakhmat(1986) mengatakan bahwa tujuan belajar adalah
mengumpulkan pengetahuan, penanaman konsep dan pengetahuan, dan pembentukan
sikap dan perbuatan.
Tujuan pembelajaran
adalah suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau
penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil
belajar yang diharapkan. Proses pembelajaran adalah proses membantu siswa
belajar,yang ditandai dengan perubahan perilaku baik dalam aspek kognitif,
afektif dan psikomotorik. Seorang guru hanya dapat dikatakan telah melakukan
kegiatan pembelajaran jika terjadi perubahan perilaku pada diri peserta didik
sebagai akibat dari kegiatan tersebut. Ada hubungan fungsional antara perbuatan
guru dengan perubahan perilaku peserta didik (Kartadinata, 1997: 75).
Di dalam proses
pembelajaran guru tidak sekedar bertugas mentransfer pengetahuan, sikap dan
keterampilan. Proses pembelajaran dipandang sebagai proses membantu peserta
didik belajar, membantu peserta didik mengembangkan dan mengubah perilaku
(kognitif, afektif dan psikomotorik); membantu menerjemahkan semua aspek
tersebut ke dalam perilaku-perilaku yang berguna dan bermakna.
Berikut ini dikemukakan
beberapa pendapat para ahli mengenai tujuan pembelajaran. Diantaranya menurut Robert
F. Mager (1962) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah perilaku yang
hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat
kompetensi tertentu.
Sedangkan menurut Kemp
(1977) dan David E. Kapel (1981) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran suatu
pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang
diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan.
Dan yang terakhir adalah menurut Oemar Hamalik (2005) menyebutkan bahwa
tujuan pembelajaran adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku yang
diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsung pembelajaran.
Pada dasarnya pendapat para pakar diatas lebih
bersifat saling melengkapi, semoga dengan diuraikannya beberapa pendapat para
ahli mengenai tujuan pembelajaran, penulis ataupun pembaca bisa lebih memahami
tujuan pembelajaran secarah komprehensif dan komparatif.
Dengan mengkaji tentang model pembelajaran tematik
ini, diharapkan kita bisa tahu apa itu pembelajaran tematik, lebih dari itu
kita bisa menerapkannya dalam proses pembelajaran di Sekolah Dasar agar proses
pembelajaran lebih terpadu dan bermakna sebagaimana uraian yang dijelaskan dalam
latar belakang.
Dengan adanya tema ini akan memberikan banyak
keuntungan, diantaranya 1) siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema
tertentu, (2) siswa dapat mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai
kompetensi dasar antara mata pelajaran dalam tema yang sama, (3) pemahaman
terhadap meteri pelajaran lebih mendalam dan berkesan, (4) kompetensi dasar
dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan mata pelajaran lain dengan
pengalaman pribadi siswa, (5) siswa dapat lebih merasakan manfaat dan makna
belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas, (6) siswa dapat
lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk
mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari
mata pelajaran lain, (7) guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang
disajikan secara terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua
atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial,
pemantapan, atau pengayaan.
Tujuan dari model pembelajaran tematik adalah adalah
untuk memberikan fokus perhatian siswa pada proses yang ditempuh saat siswa
berusaha memahami isi pembelajaran sejalan dengan bentuk-bentuk keterampilan
yang harus dikembangkannya. Tujuan dari adanya tema ini bukan hanya untuk
menguasai konsep-konsep dalam suatu mata pelajaran, akan tetapi juga
keterkaitannya dengan konsep-konsep dari mata pelajaran lainnya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Metode Pembelajaran Tematik
Model pembelajaran tematik adalah merupakan kegiatan
belajar mengajar dengan memadukan materi beberapa mata pelajaran dalam satu
tema. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar cara ini dapat dilakukan dengan dua
cara. Cara pertama, materi beberapa
mata pelajaran disajikan dalam tiap pertemuan. Sedangkan cara kedua, yaitu tiap kali pertemuan hanya
menyajikan satu jenis mata pelajaran. Pada cara kedua ini, keterpaduannya
diikat dengan satu tema pemersatu. Oleh karena itu pembelajaran tematik ini
sering juga disebut pembelajaran terpadu atau integrated learning.
Bentuk keterkaitan atau keterpaduan ini dapat
diartikan sebagai pemberdayaan materi pelajaran satu pada waktu menyajikan
materi pelajaran lain yang diikat oleh satu tema. Melalui pembelajaran tematik,
pemahaman konsep selalu diperkuat karena adanya sinergi pemahaman antara konsep
yang dikemas dalam tema. Dalam pelaksanaannya, pendekatan pembelajaran tematik
ini bertolak dari suatu tema yang dipilih dan dikembangkan oleh guru bersama
siswa dengan memperhatikan keterkaitannya dengan isi mata pelajaran. Tema adalah
pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan
(Poerwadarminta, 1983).
Pada pembelajaran tematik cara pertama menuntut
kreativitas guru dan sistem persekolahan yang memiliki otoritas tinggi untuk
membuat keputusan sendiri berkaitan dengan perencanaan dan pelaksanaan gagasan
inovatif seperti pembelajaran tematik yang memungkinkan terjadinya perubahan
jadwal dan perubahan target program kelas. Pada pembelajaran terpadu dengan
cara kedua ini memberi peluang pada sistem persekolahan yang masih bersifat
sentralistik, dimana sekolah banyak mengikuti kebijakan yang ditentukan dari
pengambil keputusan diluar sekolah seperti penjadwalan dan target kurikulum.
Misalnya, padu waktu berbelanja di pasar, mereka
berhadapan dengan hitung menghitung (Matematika), aneka ragam makanan sehat
(IPA), dialog tawar-menawar (bahasa Indonesia), dan harga yang terkadang naik
turun (IPS), serta beberapa materi pelajaran lainnya. Sebaliknya, materi
pelajaran yang tidak saling terkait merupakan hal yang abstrak bagi anak. Oleh
karena itu, pembelajaran tematik akan dirasakan lebih bermakna bagi diri anak.
Pembelajaran tematik dapat mempermudah anak dalam
membangun gagasan atau pengetahuan baru, karena materi yang disajikan saling
terkait satu sama lain. Kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna apabila
materi pelajaran yang sudah dipelajari atau dipahami siswa dapat dimanfaatkan
untuk mempelajari materi berikutnya. Pembelajaran yang terpadu sangat
berpeluang dalam membantu dan memanfaatkan pengetahuan anak yang telah dimiliki
sebelumnya.
Pembelajaran tematik memberikan peluang kepada anak
untuk mengembangkan tiga ranah sasaran pendidikan secara bersamaan. Ketiga
ranah sasaran pendidikan ini meliputi (jujur, teliti, tekun, terbuka terhadap
gagasan ilmiah), keterampilan (memperoleh, memilih, dan memanfaatkan informasi,
menggunakan alat, mengamati, membaca grafik, termasuk juga keterampilan sosial
seperti bekerjasama dan kepemimpinan), dan wawasan kognitif (seperti gagasan
konseptual tentang lingkungan dan alam sekitar).
Pembelajaran tematik memberi peluang kepada anak
untuk membangun sinergi kemampuannya, sehingga tujuan utuh pendidikan (mandiri,
peka, dan bertanggungjawab) dapat dicapai. Kemampuan yang diperoleh dari satu
mata pelajaran akan saling memperkuat kemampuan yang diperoleh dari mata
pelajaran lain. Sehingga guru dapat lebih menghemat waktu dalam menyusun
rencana pembelajaran. Tidak hanya siswa, guru pun belajar lebih bermakna
terhadap konsep-konsep sulit yang diajarkan. Dengan demikian, pembelajaran
tematik merupakan salah satu wahana ideal untuk mengangkat realita sehari-hari
sebagai tema pengajaran.
B.
Landasan Pembelajaran Tematik
Landasan filosofis dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh
tiga aliran filsafat yaitu: (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, (3)
humanisme. Aliran progresivisme
memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas,
pembelajaran sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan
memperhatikan kemampuan siswa.
Aliran konstruktivisme
melihat pengalaman langsung siswa (direct experiences) sebagai kunci dalam
pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi bentukan
manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek,
fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Sedangkan aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan atau kekhasannya,
potensinya, dan motivasi yang dimilikinya.
Landasan Psikologis dalam pembelajaran tematik terutama berkaitan
dengan psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar. Psikologi
perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi atau materi pembelajaran
tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya
sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologi belajar memberikan
kontribusi dalam hal bagaimana isi atau materi pembelajaran tematik tersebut
disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus mempelajarinya.
Landasan Yuridis dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan
berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran
tematik di sekolah dasar. Landasan yuridis tersebut adalah UU No. 23 Tahun 2002
tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh
pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat
kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya (Pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada
setiap satuan pendidikan barhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan
bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V Pasal 1-b).
C.
Prinsip Dasar Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik memiliki satu tema yang aktual,
dekat dengan dunia siswa dan ada dalam kehidupan sehari-hari. Tema ini menjadi
alat pemersatu materi yang beragam dari beberapa materi pelajaran. Pembelajaran
tematik perlu memilih materi beberapa mata pelajaran yang mungkin dan saling
terkait.
Materi-materi dalam pembelajaran tematik yang
dipilih dapat mengungkapkan tema secara bermakna.Misalnya ada materi pengayaan
horizontal dalam bentuk contoh aplikasi yang tidak termuat dalam GBPP. Namun
penyajian materi pengayaan seperti ini perlu dibatasi dengan mengacu pada
tujuan pembelajaran.
Pembelajaran tematik tidak boleh bertentangan dengan
tujuan kurikulum yang berlaku, tetapi sebaliknya pembelajaran tematik harus
mendukung pencapaian tujuan utuh kegiatan pembelajaran yang termuat dalam
kurikulum. Materi pembelajaran yang dapat dipadukan dalam satu tema selalu
mempertimbangkan karakteristik siswa seperti minat, kemampuan, kebutuhan, dan
pengetahuan awal. Materi pelajaran yang dipadukan tidak perlu terlalu
dipaksakan, artinya materi yang tidak mungkin dipadukan, tidak usah dipadukan.
D.
Karakteristik Pembelajaran Tematik
Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar,
pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
a. Berpusat pada siswa.
Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini sesuai dengan
pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subyek
belajar, sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu
memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.
b. Memberikan pengalaman langsung.
Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman
langsung kepada siswa (direct experiences).
Dengan pengalaman ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkrit)
sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.
c. Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas.
Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata
pelajaran menjadi tak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada
pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.
d. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran.
Proses pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep
dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian,
siswa dapat memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan
untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam
kehidupan sehari-hari.
e. Bersifat fleksibel.
Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel)
dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata
pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan
lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.
f. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan
siswa.
Siswa
diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan
minat dan kebutuhannya.
E.
Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Tematik
Dalam suatu model pembelajaran pasti akan terdapat
suatu kekurangan, seideal apapun suatu model pembelajaran, pasti akan terdapat
suatu kekurangan. Dimana terdapat ketidak sesuaian, ketidak sesuaian tersebut
pasti terdapat dalam salah satu aspek-aspek tertentu.
Mengingat bahwa makalah ini menjelaskan tentang
model pembelajaran tematik, maka dari itu penulis akan menguraikan kelebihan
dan kekurangan dari model pembelajaran tematik.
Menurut
Kunandar (2007: 315), model pembelajaran tematik mempunyai beberapa kelebihan
yakni:
1. Menyenangkan karena berangkat dari minat dan
kebutuhan peserta didik.
2. Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar
yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
3. Hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih
berkesan dan bermakna.
4. Mengembangkan keterampilan berpikir peserta
didiksesuai dengan persoalan yang dihadapi.
5. Menumbuhkan keterampilan sosial melalui kerja sama.
6. Memiliki sikap toleransi, komunikasi dan tanggap
terhadap gagasan orang lain.
7. Menyajikan kegiatan yang bersifat nyata sesuai
dengan persoalan yang dihadapi dalam lingkungan peserta didik.
Selain
kelebihan-kelebiha model pembelajaran tematik yang dipaparkan di atas,model pembelajaran
tematik ini pun memiliki beberapa kelemahan. Yang menjadi kelemahan dalam model
pembelajaran tematik tersebut adalah apabila dilakukan oleh guru tunggal.
Misalnya seorang guru kelas kurang menguasai secara mendalam penjabaran tema
sehingga dalam pembelajaran tematik akan merasa sulit untuk mengaitkan tema
dengan materi pokok setiap mata pelajaran.Di samping itu, jika skenario
pembelajaran tidak menggunakan metode yang inovatif maka pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar tidak akan tercapai
karena akan menjadi sebuah narasi yang kering tanpa makna.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dalam pembahasan diatas telah diuraikan beberapa
pengertian model pembelajaran tematik secara umum, kemudian tentang
karakteristik dari model pembelajaran tematik, dan yang terakhir adalah uraian
tentang kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran tematik. Dari uraian
diatas akhirnya disimpulkan bahwasanya model pembelajaran tematik ini
katakanlah populer, lantaran materi dari tiap mata pelajaran dapat kita
satukan, atau dengan kata lain, dapat dikait-kaitkan. Dengan begitu, proses
penyampaian materi akan lebih mudah diserap karena materi yang diajarkan
berikutnya, seolah sudah diajarkan sebelumnya dalam mata pelajaran lain yang
dikaitkan dengan mata pelajaran berikutnya.
Model pembelajaran tematik ini juga kiranya lebih
relevan diterapkan, sebab model pembelajaran tematik ini juga dapat membantu
membangkitkan minat belajar siswa. Karena dalam pengemasan mata pelajaran
menggunakan model pembelajaran tematik ini, mata pelajaran yang disaling
kait-kaitkan dikemas dalam bentuk penyampaian materi yang didalamnya terdapat
unsur bermain, sehingga siswa sekolah dasar akan lebih menyukainya.
B.
Saran
Kiranya model pembelajaran tematik ini lebih
bermakna, bermakna disini berarti bahwa siswa akan memahami konsep-konsep yang
mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep
lain yang telah dipahaminya. Berangkat dari pemahaman kebermaknaan model
pembelajaran tematik, maka dari itu kiranya perlu seorang guru dan atau kita
selaku mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah
Dasar yang menjadi calon-calon guru untuk memahami tentang model
pembelajaran tematik, lantaran model pembelajaran tematik ini adalah merupakan
model pembelajaran yang dapat dikatakan komprehensif, karena disamping
memberikan wawasan pengetahuan kepada siswa, juga merangsang segi afektif siswa
itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
ü Bigge, Morris L. (1982). Learning Theories for Teacher. New York: Harper and Row Publisher
Inc.
ü Briggs, Leslie J. (1977). Instructional Design, Principles and Applications. New Jersey:
Educational Technology Publications Englewood Cliffs.
ü Kunandar. (2007). Guru Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
ü Morgan, Clifford T. King. A. Robinson, Richard.
Nancy, M. (1960). Introduction to
Psychology. Tokyo: McGraw Hill International Book Company.
ü Mouly, George J. (1960). Psychology for Effective Teaching. New York: Holt Rinehart and
WiriSton Inc.
ü Snellbecker, Glen E. (1974). Instructional Theory and Psychoeducation Design. New York: McGraw
Hill International Book Company.
ü Sudjana, Nana. (1985). Teori Belajar. Jakarta: Fakultas Pasca Sarjana IKIP Jakarta.
ü Wirawan, Sarlito. (1978). Berkenaan dengan Aliran-Aliran dan Tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan
Bintang.
No comments:
Post a Comment